Telah lama masyarakat
Indonesia mengenal istilah “amplop” untuk kepentingan-kepentingan
tertentu. Misalnya “amplop” untuk sang pengantin
baru, “amplop” untuk Bibik yang berjasa sebagai Asisten Rumah Tangga
(ART), ada juga “amplop” untuk keluarga yang baru saja meninggal.
Biasanya orangtua mengajarkan bahwa “amplop” itu berguna sebagai
simbol kasih, guna menyenangkan hati penerimanya.
Dalam kasus
kematian, “amplop” diberikan sebagai wujud bantuan dan rasa
belasungkawa pada keluarga yang ditinggalkan. “Amplop” tak melulu
berbentuk sejumlah uang yang dimasukkan ke dalam amplop, tapi bisa juga berupa
makanan, barang, sampai bantuan tenaga. Sebagai bentuk solidaritas, baik
tetangga maupun saudara kerap ikut membantu prosesi pengurusan jenazah. Kita
diajari untuk menunjukkan perhatian pada keluarga yang berduka. Saking lekatnya
tradisi ini, tak jelas lagi apakah tindakan
memberikan “amplop” adalah budaya atau aturan agama.
Dalam hadist sendiri
dikatakan bahwa “Dianjurkan kepada para tetangga dan/atau kerabat dan
teman untuk menyediakan makanan bagi keluarga jenazah sebagaimana hadits
riwayat al-Tirmidzi, al-Ha-kim dan lain-lainnya, bahwa Rasulullah saw.
bersabda: “Buatkan makanan bagi keluarga Ja’far, karena mereka sekarang
sibuk mendengar kematian Ja’far.” “
Saat-saat ditinggal pergi
oleh orang yang terkasih merupakan saat yang berat. Berdasarkan hadist, Umat
Islam disunahkan untuk membesarkan hati keluarga yang ditinggal dengan bentuk
dan cara bisa bermacam-macam.
Atas dasar inilah Yayasan
Kesejahteraan Kampung Tengah ingin berbagi kepada umat Islam yang sedang
berduka dengan memberikan bantuan kepada keluarga yang ditinggalkan, setidaknya
bagi kalangan bawah bantuan ini dapat dipergunakan untuk merawat jenazah atau
untuk kebutuhan lainya.